|
Suara Sinode
Ruang ini merupakan
sarana persekutuan internal dan eksternal. Secara internal,
anggota jemaat dan majelis pengerja secara berkala dan
temporer akan menerima informasi tentang gereja GIKI
baik sinodal maupun jemaat. Selain itu, anggota jemaat
atau pengerja dapat bertanya yang berkaitan dengan gereja
GIKI baik secara organisasi, teologi, maupun misi dan
dapat pula menyampaikan masukan, kritikan, dan usulan
guna kemajuan nama Tuhan dan Kerajaan Tuhan.
Secara eksternal, orang
Kristen, secara umum, dan simpatisan GIKI, secara khusus,
dapat mengakses setiap informasi di ruang ini sehingga
menambah pengenalan mereka tentang GIKI. Selain itu,
pengurus sinode juga akan melayani pertanyaan-pertanyaan
tentang gereja GIKI yang berhubungan dengan organisasi,
teologi, dan misi dan juga dapat menyampaikan masukan
dan usulan guna kemajuan gereja Tuhan dan Kerajaan Tuhan.
Ruang Suara Sinode ini akan dikelola oleh Pendeta Edi
Ginting
Berita
2/9/2002
Gereja dan Kebudayaan
Berita 2/9/2002
-
Untuk mengimplementasikan
Visi Persekutuan Sinode 100 Pos PI pada 2012, maka
Majelis Sinode dalam persekutuannya pada 10 Agustus
2002 mencanangkan 10 pos PI pada tahun pelayanan
2002/2003.
-
Oleh karena itu,
majelis pengerja diimbau untuk segera merencanakan
pos PI baru untuk tahun ini. Bandung mempersiapkan
dua pos PI baru, yaitu di Rancaekek (Bandung Timur)
dan Cimahi (Bandung Barat). Jakarta mulai merintis
2 pos PI baru, yaitu Ciputat dan Tanjung Priok.
Kabanjahe mempersiapkan pembukaan kembali Tiganderket,
Tiga Panah. Sukarame mulai merintis Kandibata. Mohon
dukungan doa dari semua anggota jemaat agar perintisan
ini akan berjalan dengan baik, sampai dengan pendirian
pos PI.
-
Untuk memberikan
dorongan kepada majelis pengerja dalam rangka merintis
pos PI baru, maka majelis sinode akan mengadakan
kunjungan pelayanan ke Tanah Karo para akhir September
sampai dengan awal Oktober 2002. Yang akan berangkat
ke Tanah Karo ialah Pn. Djauhari Perangin-angin,
Pendeta Ginting dan istri, Nd. Natanael. Pengurus
majelis sinode yang lain akan mengikuti Kongres
Nasional PII yang dilasakanakan di Yogyakarta pada
01—04 Oktober 2002.
-
Jemaat Jakarta sedang
mencoba menerapkan ilmu manajemen ke dalam pelayanan
gereja di GIKI Jakarta. Sasarannya ialah agar proses
dan hasil pelayanan dapat diukur. Dengan demikian,
pada masa-masa yang akan datang, pelayanan gereja
akan diselenggarakan dengan tertib, terencana, dan
bermutu. Di samping itu, disiplin dan kerja keras
serta ketulusan hati akan menjadi karakteristik
pelayanan gereja GIKI. Bila usaha ini berhasil di
Jakarta, maka majelis sinode akan menawarkannya
kepada semua majelis pengerja yang lain.
Forum ini (suara sinode) kami harapkan sebagai sarana
partisipasi anggota jemaat dalam bentuk masukan
dan kritikan kepada dan mengenai gereja GIKI.
keatas
Gereja
dan Kebudayaan
Pengantar
Kebudayaan adalah sesuatu yang dilematis di dalam kehidupan
umat manusia. Ia diciptakan untuk kebaikan umat manusia,
tetapi tidak jarang, ia berubah menjadi musuh yang menekan
dan menyengsarakan umat manusia.
Hal ini sebenarnya terjadi bila manusia tidak lagi dapat
mengendalikan kebudayaan itu, melainkan menempatkan
dirinya di bawah kebudayaan. Penempatan manusia di bawah
kebudayaan secara esensial telah bertentangan dengan
kebudayaan itu sendiri.
Oleh karena itu, perlu keberanian setiap individu untuk
menempatkan dirinya di atas budaya, dalam arti kebudayaan
itu untuk kebaikan umat manusia. Itulah yang ditegur
oleh Tuhan Yesu dalam kitab Matius. Ketika Tuhan menolong
orang yang sakit pada hari Sabat. Budaya Yahudi yang
didukung oleh agama Yahudi, melarang orang untuk bekerja
atau melakukan apapun pada hari Sabat.
Yesus menegaskan bahwa Sabat itu untuk kebaikan umat
manusia dan bukan untuk kehancurannya. Melalui peristiwa
ini, Tuhan memperlihatkan betapa berbahayanya bila budaya
itu dituhankan dan tidak lagi dipandang sebagai upaya
manusia untuk mewujudkan kebaikan manusia itu sendiri.
Dengan mengikuti kerangka pikir itulah, gereja GIKI
menempatkan dirinya sebagai pengendali budaya dan bukan
budak dari budaya. Hal ini tidak berarti mengizinkan
sikap pelecehan terhadap budaya leluhur, melainkan sikap
kritis terhadap warisan leluhur.
Bagaimanapun, Allah telah menetapkan gereja di dunia
ini sebagai agen perubahan kehidupan. Gereja dipakai
oleh Allah untuk membuat kehidupan ini menjadi terang
dan indah.
Konsep Alkitab
Ada dua bagian Alkitab yang akan dipakai untuk menolong
kita memahami bagaimana semestinya sikap gereja terhadap
adat dan kebudayaan. Bagian pertama ialah sikap Yesus
sendiri yang direkam oleh Matius. Di dalam Matius 5—15,
Tuhan Yesus memperlihatkan sikap dan ajarannya tentang
tradisi atau kebudayaan. Beliau mengatakan sebuah paradoks.
Pada satu bagian, beliau menyatakan bahwa akan mengikuti
tradisi dengan baik dan bahkan menegaskan bahwa satu
iota (tanda baca) pun dari tradisi Yahudi tidak boleh
dikurangi. Akan tetapi, di sisi lain, beliau melanggar
tradisi Sabat (Mat 12), tradisi puasa (Mat. 9), tradisi
makan (Mat. 11 dan 15:2), dan mengajarkan kebenaran
baru tentang tradisi. Yesus menegaskan bahwa tradisi
dibuat untuk kebaikan dan kemanfaatan bagi manusia (Mat.
12:8, 12; 15:1—20).
Dengan kata lain, Yesus ingin menyatakan,” Hai kamu
yang antiadat, ketahuilah bahwa kamu lahir di pangkuan
adat dan dibesarkan di lingkungan adat. Kamu tidak mungkin
dan memang tidak mungkin menghapuskan adat dan tradisi.
Hai kamu yang proadat, ketahuilah bahwa kamu bukanlah
budat adat dan sadarlah bahwa adat dapat berubah menjadi
jahat. Oleh karena itu, janganlah kamu menuhankan adat
dan diperbudak olehnya.”
Jadi, kesimpulan dari pengajaran Yesus tentang tradisi
atau budaya di dalam Injil Matius ialah bahwa setiap
orang percaya kepada Yesus harus senantiasa berani mereinterpretasi
secara kritis setiap tradisi dan menjadikan tradisi
sebagai suatu budaya yang memberikan manfaat bagi dirinya
dan lingkungannya.
Contoh kedua yang menarik ialah kasus Petrus dengan
sikap budayanya (Kisah 10:1—48). Petrus, sama seperti
kebanyakan orang Yahudi, adalah seorang yang sangat
fanatik kepada tradisi Yudaisme yang mereka yakini berasal
dari Allah yang diterima Musa di Gunung Sinai. Salah
satu dari tradisi itu ialah bahwa ada sejumlah makanan
yang haram yang tidak boleh dimakan oleh orang Yahudi.
Ketika Allah menyajikan makanan itu, Petrus secara spontan
menolaknya. Yang luar biasa ialah pernyataan Allah sendiri
kepada Petrus,”Apa yang Allah nyatakan Halal tidak boleh
dinyatakan Haram.” (ay. 15,16). Allah tidak kali menyatakan
itu, sehingga akhirnya, Petrus menerimanya sebagai kebenaran
baru.
Dari kasus ini, kembali Alkitab mengajarkan bahwa prasangka
berlebihan terhadap tradisi adalah sesuatu yang keliru.
Tuhan mendorong Petrus untuk berani menafsirkan ulang
tradisi yang dipegangnya. Ini juga menjadi pelajaran
bagi setiap orang percaya untuk berani menafsirkan ulang
semua tradisi, termasuk tradisi yang lahir di dalam
gereja.
Konsep Injili
Rumusan aliran Injili tentang kebudayaan ialah bahwa
kebudayaan merupakan produk dari manusia yang diciptakan
segambar dan serupa dengan Allah. Ini berarti bahwa
di dalam kebudayaan terdapat nilai yang sesuai dengan
kehendak Allah. Di sisi lain, kebudayaan juga merupakan
produk manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Ini berarti
bahwa kebudayaan juga telah tercemar oleh dosa dan di
dalam sebagian kebudayaan terdapat juga nilai-nilai
yang bertentangan dengan kehendak Allah. Itu sebabnya,
aliran Injili mengambil sikap yang kritis terhadap kebudayaan
dalam arti gereja atau iman kristiani harus menguduskan
kebudayaan yang bertentangan dengan Injil.
Kebudayaan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan
dengan kehidupan umat manusia. Adalah mustahil mengeluarkan
manusia dari kebudayaan dan manusia itu menjadi bebas
budaya. Selama manusia memiliki naluri kebudayaan maka
selama itu pula kebudayaan adalah bagian dari manusia
tersebut.
Tuhan Yesus memberi sikap yang tegas terhadap kebudayaan
orang-orang Yahudi. Tuhan Yesus tidak membatalkan tetapi
menyempurnakan. Ini berarti bahwa kebudayaan di mata
Tuhan Yesus adalah sarana untuk menyampaikan kehendak-Nya.
Bila kebudayaan itu tidak menghalangi kehendak-Nya maka
Tuhan Yesus membiarkan kebudayaan tersebut. Contoh,
Tuhan Yesus datang ke Bait Allah (Luk 2). Akan tetapi,
bila kebudayaan tersebut menghalangi kehendak-Nya maka
Tuhan Yesus akan menolak kebudayaan tersebut. Contoh.
Tuhan Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Ini
berarti bahwa Yesus berada di atas nilai-nilai kebudayaan.
Rasul Paulus memperkenalkan metode penginjilan dengan
mengatakan,"Bagi orang Yahudi aku orang Yahudi,
bagi orang Yunani aku orang Yunani dan ...." Ini
memberikan penegasan kepada kita bahwa kebudayaan itu
merupakan sarana untuk menyampaikan sesuatu yang lebih
menonjol lagi, yaitu Injil.
Dalam II Korintus, Paulus membandingkan Injil dengan
Taurat. Paulus menegaskan bahwa Injil jauh lebih mulia
daripada Taurat dan tugas memberitakan Injil jauh lebih
mulia daripada tugas mengajarkan Taurat.
Pada masa sekarang, gereja-gereja di Asia dan juga Indonesia
mengenal dan menerapkan teologi kontekstual. Pada intinya
teologi kontekstual melihat ada nilai pada kebudayaan
lokal dan melihat bahwa Injil yang tertulis terbalut
oleh kebudayaan dan Injil yang diberikan juga terbalut
oleh kebudayan pemberita. Oleh karena itu, Injil harus
dilepaskan dari kebudayaan yang membungkusnya dan kemudian
dipakaikan pada kebudayaan lokal sehingga penerima Injil
dalam bungkus budaya mereka tidak akan merasa asing
dengan Injil.
Teologi kontekstual sangat dibutuhkan tetapi juga sangat
dekat dengan sinkretisme. Itu sebabnya, teologi ini
dapat diterapkan dengan kesadaran penuh bahwa kebudayaan
lokal sendiri perlu dikuduskan oleh Injil.
Kebudayaan Karo
Walau bagaimanapun, kebudayaan selalu berstandar humanis
karena memang diatur untuk manusia dalam hubungannya
dengan manusia lain dan dengan alam.
Hal-hal yang harus dikuduskan dari kebudayaan Karo ialah:
1. Harkat laki-laki dan perempuan yang berbeda.
Bagi orang Karo yang patrilineal, laki-laki adalah pusat
dan penguasa. Keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki
dianggap keluarga yang kurang sempurna. Warisan diberikan
kepada laki-laki sedangkan kepada perempuan diberikan
berdasarkan belas kasihan bukan berdasarkan kesamaan
hak. Dalam perkawinan, perempuan dibeli dengan sejumlah
uang oleh laki-laki atau keluarga laki-laki.
Menurut Firman Tuhan, laki-laki dan perempuan memiliki
harkat yang sama (Gal 3:29) tetapi fungsi yang berbeda.
2. Perkawinan tidak boleh semarga
Di dalam Alkitab, pedoman pernikahan yang diberikan
oleh Tuhan ialah manusia dengan manusia, laki-laki dengan
perempuan, dan keduanya seiman. Ini sesuatu yang tidak
mudah bila terjadi perbenturan antara ketentuan budaya
dengan ketentuan Alkitab. Kita berusaha menghindarkan
benturan keduanya, tetapi bila terjadi dan kita harus
memilih, maka kita harus memilih lebih takut kepada
Tuhan daripada takut kepada manusia.
Gereja GIKI akan berusaha menghindarkan terjadinya perkawinan
semarga karena hal itu tidak sesuai dengan budaya Karo.
Akan tetapi, gereja GIKI harus pula mengakui bahwa perkawinan
semarga tidak bertentangan dengan kitab suci. Oleh karena
itu, gereja GIKI akan berusaha untuk tidak membenturkan
kebenaran kitab suci dengan kebudayaan. Akan tetapi,
seperti Tuhan Yesus yang menyembuhkan orang pada hari
Sabat, maka gereja GIKI demi kebaikan dan keselamatan
orang-orang tertentu dan demi kemuliaan nama Tuhan,
akan lebih memilih ketentuan Tuhan daripada ketentuan
manusia.
3. Menantu laki-laki dengan mertua perempuan tidak boleh
berbicara secara langsung. Sebenarnya, tradisi ini tidak
terlalu mengikat semua orang Karo. Cukup banyak keluarga
yang tidak menerapkan ketentuan ini.
Gereja GIKI juga berlaku luwes. Artinya, tidak mendorong
anggota jemaat untuk melanggarnya dan juga tidak mendorong
untuk melakukannya. Prinsip yang perlu dipegang oleh
orang yang beriman ialah bahwa dasar hubungan satu dengan
yang lain ialah kasih. Artinya, janganlah karena ketentuan,
kasih tidak dapat disalurkan. Misalnya, bila ibu mertua
sakit, padahal anak menantunya seorang dokter. Akan
tetapi, karena takut kepada ketentuan budaya, ia tidak
berani menolong ibu mertunya yang membutuhkan keahliannya.
Bagaimanapun, kasih haruslah di atas segala-galanya
bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
4. Marga-marga tertentu tidak boleh memakan hewan-hewan
tertentu karena adanya perintah atau cerita dari leluhur.
Dalam hal ini pun, kami berpendapat bahwa setiap orang
yang sudah percaya kepada Yesus sudah dibebaskan dari
segala ikatan tradisi dan kuasa-kuasa lain. Oleh karena
itu, kepada anggota jemaat yang masih terikat kepada
tradisi ini, kami memberitahukan bahwa Yesus telah membebaskannya.
Akan tetapi, bila karena sudah terbiasa tidak memakan
jenis makanan tertentu, ia tidak mau memakannya, maka
kami tidak akan memaksanya untuk membuktikan kebebasannya
dengan memakan makanan tersebut.
5. Upacara-Upacara Adat
Setiap kebudayaan pastilah memiliki upacara-upacara,
seperti upacara kelahiran, upacara pernikahan, dan upacara
kematian. Di dalam hal ini, kami menegaskan bahwa prinsip
utama ialah mengutamakan Tuhan. Artinya, bila upacara
itu diadakan pada hari Tuhan, maka seorang percaya harus
mendahulukan Tuhan. Kedua, prinsip efisiensi. Gereja
adalah agen pembaharuan bagi dunia sekitarnya. Banyak
upacara-upacara budaya yang tidak efisien. Padahal,
tuntutan modernisasi ialah efisiensi. Oleh karena itu,
dengan tidak bermaksud melecehkan budaya, maka anggota
jemaat akan didorong untuk efisien dan sederhana dalam
melaksanakan upacara-upacara budaya. Misalnya, pemakaian
video, mobil pengantin, bunga tangan, dan lain-lain
adalah upacara tambahan. Pengadaan 'keyboard' di luar
upacara resmi adalah juga tambahan. Seorang anak Tuhan
harus berani berkata dan bertindak demi efisiensi dan
kehematan.
Kesimpulan
Sebagai orang percaya dan sekaligus juga orang yang
berbudaya, maka setiap anggota GIKI diharapkan dapat
menempatkan iman di dalam Yesus Kristus sebagai pelita
dan terang (Maz. 119:105) di dalam kehidupan sehari-hari,
termasuk dalam berinteraksi dengan tradisi dan budaya
Karo.
Firman Tuhan menyatakan bahwa segala sesuatu boleh,
tetapi tidak segala sesuatu berguna. Artinya, di dalam
Yesus kita bebas dari segala ikatan tradisi, tetapi
bersama Paulus kita rela mengikuti tradisi bagi kesaksian
Injil.
Oleh karena itu, jadilah anak Tuhan yang setia dan taat
kepada Firman Tuhan dan jadilah garam dan terang di
lingkungan kita masing-masing sekaligus juga sebagai
saluran berkat.
keatas
|