|
Kesaksian
Ia Membuat Segala
Sesuatu Indah Pada Waktunya
dikirm oleh HP
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam
sehelai kain.
Saya yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas
dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan
bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain.
Tetapi saya memberitahu kepadanya, bahwa yang saya
lihat dari bawah hanyalah benang ruwet.
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan
lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara
ibu meyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai,
engkau akan ku panggil dan kududukkan di atas pangkuan
ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."
Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan
putih, begitu
semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian,
saya mendengar suara ibu memanggil,"Anakku, mari
kesini, dan duduklah di pangkuan ibu."
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat
bunga-bunga yang
indah, dengan latar belakang pemandangan matahari
yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir
tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku
lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.
Kemudian ibu berkata, "Anakku, dari bawah memang
nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari
bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan,
sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan
melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan
dari
apa yang ibu lakukan."
Sering selama bertahun-tahun, saya melihat ke atas
dan bertanya kepada
Bapa Sorgawiku," Bapa, apa yang Engkau lakukan?
" Ia menjawab" Aku sedang menyulam kehidupanmu."
Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini
ruwet, benang - benangnya banyak yang hitam, mengapa
tidak semuanya memakai warna yang cerah?"
Kemudian Bapa menjawab," Anakku, kamu teruskan
pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu
di bumi ini, satu saat nanti. Aku akan memanggilmu
ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu
akan melihat rencanaKu yang indah dalam hidupmu."
Hari Yang Hilang
Oleh: G. Joseph, diforward FB
Bapak Harold Hill adalah presiden direktur dari
perusahaan , di Baltimore Maryland. Perusahaan beliau
adalah bergerak di bidang pendidikan ke-antariksaan
dan percobaan-percobaan yang berhubungan dengan semua
masalah tata surya dan alam semesta. Salah satu
penemuan mereka yang dapat saya katakan menakjubkan
adalah ketika mereka melakukan percobaan di Green
Belt, Maryland.
Percobaan mereka adalah mengecek kebenaran perhitungan
manusia dalam sistem penanggalan yang dipakai sekarang
ini, mengecek keabsahan dari posisi matahari, bulan,
dan planet-planet di tata surya untuk jangka waktu
100 dan 1000 tahun ke belakang dari sekarang.
Sebenarnya inti utama dari percobaan mereka adalah
agar mengetahui semua pergerakan alam semesta untuk
masa yang akan datang, sehingga jika mereka akan mengorbitkan
satelit, maka satelit tersebut akan diletakkan / diorbitkan
pada posisi yang hampir tidak mungkin bertabrakkan
dengan benda asing di alam semesta. Karena mereka
berpikir bahwa sebuah satelit yang memakan biaya jutaan
dollar amerika, alangkah sayangnya jika sewaktu-waktu
ditabrak misalnya oleh meteor atau komet.
Mereka menjalankan komputer untuk menghitung mundur
untuk beberapa abad, tetapi hasil yang didapat adalah
komputer selalu berhenti berproses.
Mereka lakukan berkali-kali tetapi hasil yang didapat
adalah sama,
komputer mereka mengalami masalah penghitungan.Perlu
anda ketahui, jika komputer tidak dapat melakukan
suatu perhitungan,
maka hasil yang didapat adalah aksi diamnya komputer,
seperti tidak
melakukan apa-apa.
Mereka lalu memanggil ahli mekanik komputer, karena
para ahli ini berpikir bahwa ini adalah kesalahan
yang dibuat oleh komputer
mereka. Ketika para teknisi komputer memeriksa mesin
komputer tersebut mereka tidak menemukan sedikit kesalahan
pun pada mesin tersebut. Tetapi ketika para ilmuwan
itu menunjukkan kesalahan yang dibuat oleh komputer,
teknisi komputer juga bingung, "Apa masalahnya
ya...".
Mereka terus mencari kesalahan yang dibuat oleh komputer
mereka, akhirnya mereka menemukan sesuatu yang membuat
komputer itu
tidak bekerja. Mereka menemukan adanya HARI YANG HILANG
dalam jangka waktu tertentu. Mengapa bisa demikian?
Mereka tidak dapat menemukan jawabannya. Akhirnya,
salah seorang pekerja di perusahaan itu tetapi dari
divisi yang berbeda dan seorang Kristen berkata kepada
mereka, "Saya ingat ketika saya dulu sekolah
minggu, guru sekolah minggu bercerita tentang matahari
yang diam tidak bergerak satu hari penuh." Orang-orang
di sekitarnya tidak percaya apa yang dikatakan oleh
orang Kristen tadi, kata mereka, "Tolong buktikan
dan tunjukkan kepada kami." Lalu orang tersebut
membuka Alkitab dan menunjukkan pada mereka kitab
Yosua. Alkitab menceritakan ketika pasukan
Yosua dikelilingi oleh musuh-musuhnya, ia meminta
kepada Tuhan agar tidak terjadi malam. Dan Alkitab
mengatakan bahwa matahari, bulan, bintang dan semua
tata surya diam tidak bergerak selama satu hari penuh.
Setelah pembuktian tersebut, para ilmuwan berkata,
"Inilah hari yang hilang itu!"
Mereka kemudian melanjutkan penghitungan hari yang
hilang itu agar komputer tidak lagi berhenti berproses.
Tetapi setelah program selesai diperbaiki, komputer
tersebut tetap mengalami masalah, dan mereka menemukan
kembali perhitungan yang baru bahwa hari yang hilang
itu adalah 23 jam lebih 20 menit! Tidak 24 Jam / satu
hari penuh seperti yang dikatakan dalam Alkitab. Berselang
beberapa jam, pegawai Kristen tadi berkata kembali,
"Saya ingat kejadian yang lain dalam Alkitab
di mana matahari BERGERAK MUNDUR." Ia membuka
kitab II Raja-Raja di mana Yesaya meminta kepada Tuhan
agar matahari bergerak mundur sebanyak 10 derajat!
Mereka terperanjat kaget, karena para ilmuwan tersebut
tahu persis bahwa 10 derajat dari pergerakan matahari
adalah tepat 40 menit! 24 jam permintaan Yosua kepada
Tuhan dan 40 menit permintaan Yesaya kepada Tuhan
adalah 24 jam dikurangi 40 menit = 23 jam lebih 20
menit.
Hampir satu hari penuh alam semesta kehilangan
harinya. Tepat seperti apa yang para ilmuwan hitung
dengan komputernya.
KEBESARAN TUHAN DIBUKTIKAN KEMBALI DENGAN ILMU
PENGETAHUAN, ALKITAB TIDAK
PERNAH SALAH!!! PUJI TUHAN.
Please pass it on ! All glory & honour for our
Lord Jesus Christ
"Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila
saudara-saudara diam bersama dengan rukun" (Mzm 133:1)
--------------------------
From: piter sitepu <pitersitepu@yahoo.com
Reply-To: gerejagiki@yahoogroups.com
To: gerejagiki@yahoogroups.com
Subject: Re: [gerejagiki] FW: HARI YANG HILANG
Date: Sat, 20 Apr 2002 05:27:16 -0700 (PDT)
Hallo semua,
menarik sekali membaca artikel yang diforward fredrik
barus tentang 'hari yang hilang'.
Saya penasaran dan mencari beberapa nara sumber yang
lain, ternyata perusahaan Curtis Engine yang dimaksud
dalam cerita tersebut adalah perusahaan besar yang
sampai sekarang masih ada , dan termasuk salah satu
perusahaan yang bekerja sama dengan NASA.
Dan cerita tersebut dikutip juga oleh beberapa media
antara lain:
http://www.truthorfiction.com/rumors/joshuaday.htm
Hal ini semakin menambah keyakinan saya tentang
kebenaran setiap inci cerita yang ada di alkitab.
Thanks mr. Barus, ada yang mau kasih comment.
--------------------
From: "Remedi Peranginangin"
<rperangin@hotmail.com
Reply-To: gerejagiki@yahoogroups.com
To: gerejagiki@yahoogroups.com
Subject: Re: [gerejagiki] FW: HARI YANG HILANG
Date: Sat, 20 Apr 2002 16:04:40 +0000
Syalom,
Hari yang hilang "kira-kira" sehari penuh
dapat dibaca dalam Yosua 10: 12-14.
Matahari mundur 10 tapak dapat dibaca dalam
II Raja-Raja 20:8-11.
Wah, luar biasa kisahnya.
Tuhan memberkati!
Bp. Nael
keatas
Berkat Dari Saudara
Sepupu
oleh PS
Rekan sekerja saya, wanita kulit putih bercerita
kepada saya tentang agama yang baru dipelajari dan
diyakininnya yaitu agama sepupu kita. Saya sangat
heran karena latar belakangnya adalah katholik
orthodox dan dia dididik oleh orangtuanya dengan
sangat ketat pada ajaran ortodox tersebut.
Dia bercerita bahwa dia menganut agama yang baru
tersebut setelah membaca al'quran di perpustakaan umum
dan tidak ada yang mengajarinya. Sampai sekarang dia
melakukan sembahyang 5 kali sehari di toilet (tentu
saja tidak ada musholla di tempat kerja kami).
Wow, saya penasaran, mengapa dia bisa berpindah haluan,
dan dia jawab karena dia bosan dengan orang 'kristen'
atapun 'katholik' yang berdoa cuma minta melulu kalau
bisa minta BMW. Bandingkan dengan agama Islam yang
berdoa hanya mengagungkan Allah, Allahuakbar; tidak
memikirkan diri sendiri, tegasnya.
Wah, saya agak senewen juga, tapi ini negara demokrasi
bung, semua orang bebas mengemukan pendapat, jadi saya
diamkan saja.
Pulangnya, pikiran saya agak terganggu dengan diskusi
kami. Bukankah saya juga setiap pagi minta-minta terus
sama Tuhan dalam doa saya. Walaupun bukan minta BMW
tapi minta diberikan hari yang baiklah, minta supaya
kerja dengan baiklah, minta kesehatan yang fit lah,
tidak ada celakalah; pokoknya kata kuncinya 'minta'.
Saya sering lupa dalam doa saya untuk hanya memuji
Tuhan 'Hossana' 'Halleluya' tanpa ada sampingannya 'minta'.
Wah saya perlu belajar juga berdoa ala 'agama sepupu'
yang hanya mengagungkan ALLah.
Demikianlah berkat yang saya terima dari rekan 'saudara
sepupu'. Tapi saya agak bingung, ketika dia bilang dia
makan daging babi (pork). Ah, mungkin dia pikir yang
haram adalah babi (pig) tapi pork nggak
kali.
Bye-bye
keatas
Tiga Pendekar
Apakah mereka yang terbelakang dan bodoh
merupakan rahmat Tuhan atau sebuah kecelakaan sejarah?
Barangkali, cerita saya ini bisa menjadi salah satu
kacamata untuk melihat, bahwa ternyata apapun yang diciptakan
Tuhan memang menjadi rahmat bagi dunia.
Saya lahir tahun 78 dan dua tahun kemudian
ibu saya meninggal karena suatu penyakit. Apalah yang
dimiliki seorang anak umur 2 tahun ketika ditinggal
ibunya kecuali tangis ketidaktahuan. Ketidaktahuan
karena belum bisa berpikir tetapi telah diberi Tuhan
perasaan sepi dan kehilangan.
Di sebelah utara rumah saya, tinggal
seorang pemuda idiot. Dia kira-kira berumur 12 tahun
ketika ibu saya meninggal. Selain itu, di sebelahnya
tinggal pula seorang pemuda lain berumur 20-an tahun
yang belum pernah bersekolah, tidak bisa membaca
dan bekerja sebagai kusir andong(kereta/bendi).
Sementara di sebelah barat rumah saya, tinggal pemuda
yang juga berumur 20-an tahun, terbelakang, bodoh
dan harus keluar dari kelas I SD karena tak bisa
mengikuti pelajaran sedikitpun.
Sebagai anak berumur 2 tahun, tentu
saja saya belum begitu mengenal mereka. Tetapi
seiring waktu, saya mulai tahu bahwa merekalah
sahabat terbaik dalam hidup saya. Akal saya yang
semakin terasah ketika berumur 5 tahun dan ingatan
yang semakin kuat mematri kenangan saya dengan
3 orang hebat dalam hidup saya tersebut. Merekalah
yang saya sebut sebagai 3 pendekar dalam hidup
saya. Tiga orang yang sama-sama terbelakang, tidak
bisa membaca dan sering dianggap "agak kurang"
(bahasa halus untuk sedikit gila) oleh tetangga-tetangga,
tenyata merupakan penyelamat hidup saya.
Pemuda pertama, anak belasan tahun
yang saya tahu dipanggil Adek, idiot dan selalu
mengeluarkan air liur dari mulutnya. Karena
tak pernah memiliki teman bermain, saya lah
yang selalu dipandangnya dari jendela rumah.
Ketika semua orang mengusir dan anak-anak lain
takut untuk mendekat, dia mencoba mengenal saya.
Dialah yang kemudian merawat saya, karena ketiadaan
ibu dan ayah yang terlalu jarang di rumah. Anak
idiot itulah yang mengajari saya bermain,membuatkan
wayang suket, mencari kodok di sawah, berendam
di kali atau menonton karnaval 17 Agustus yang
tiap tahun diadakan di kota kecamatan.
Pemuda dua puluhan tahun yang
menjadi kusir andong tadi bernama Gandul.
Keterbelakangannya justru menjadi sumber kebaikan
hati. Setiap hari, begitu pulang dari bekerja,
dia selalu menyisihkan uang Rp 50-100 di bawah
jok andongnya. Uang itu khusus disediakan
untuk saya, anak SD yang tak pernah lagi menerima
uang saku dari ayahnya. Selama bertahun-tahun,
Gandul melakukan itu karena tahu bahwa saya
tak pernah bisa jajan jika dia lupa menyisihkan.
Dia juga yang mengajak saya jalan-jalan, menjadi
kernet andong atau bersuka dengan kudanya.
Pemuda ketiga bernama Darsio,
karena tak juga bisa melakukan apa yang
dilakukan kawan-kawannya, dia dikeluarkan
dari sekolah. Mulai itulah dia mendekati
saya, mengajak saya bermain di kebunnya
yang luas. Mencarikan buah apapun yang saya
inginkan. Jika saya lagi kepingin pisang,
dia akan mencarinya. Begitu pula ketika
saya minta kelapa muda di satu siang yang
panas, dia akan mengajak saya ke kebun dan
memetikkan beberapa. Darsio mengajari saya
berenang, kadang berpetualang seharian ke
tempat-tempat yang jauh, berjalan kaki dan
melatih keberanian saya. Karena sebelumnya
saya memang terlalu penakut dan mudah menangis.
Agar tubuh saya kuat, dia juga memberi segelas
susu kedelai dari pabrik tahu milik orang
tuanya hampir setiap hari.
Ketiga orang itu, 3 pendekar
yang mengisi hidup masa kecil saya. Menemani
dengan tulus sehingga kini saya bisa berpikir
bahwa Tuhan memang mengambil ibu saya,
tetapi Dia mengirimkan 3 orang hebat dalam
hidup saya. Ketiganya terbelakang, tidak
sekolah, tak bisa membaca, bahkan dua
diantaranya sampai kini tak punya istri.
Tetapi merekalah yang mengajari saya banyak
hal, menemani tahun-tahun sepi, membantu
saya siap untuk mandiri.
Kini saya 24 tahun dan
akan segera menyelesaikan kuliah. Karena
pengalaman hidup itulah saya bisa bertahan
hingga sekarang, merantau, mandiri,
dan memiliki pandangan positif terhadap
makluk ciptaan Tuhan seperti apapun
adanya. Untunglah saya dibesarkan oleh
3 orang idiot dan bukannya 3 orang profesor,
3 orang kaya, atau 3 bisnisman. Sehingga
saya bisa memaknai hubungan antar manusia,
bukan karena kapasitas intelektual,
materi atau kesuksesan. Bagi saya, ketulusan
untuk memberi dan sikap menjadi manusia
seutuhnya itu lebih penting. Berkah
dari 3 pendekar hebat, dan karena itulah
saya selalu beranggapan, seperti apapun
kondisinya, hidup kita diciptakan Tuhan
sangat indah. Kalau mata kita memandangnya
dengan indah pula. Sumber: Nurhadi
(29 Agustus 2002)
keatas
Senyum
yang Lugu
(James C. Brown, M.D., A 5th Portain
Of Chicken Soup For The Soul)
Ketika kami mendorong Mary, yang usianya
lima tahun, ke dalam ruang MRI (magnetic
resonance imaging), aku mencoba membayangkan
perasaannya. Ia telah menderita stroke
yang menyebabkan tubuhnya lumpuh sebelah,
dirawat di rumah sakit untuk pengobatan
tumor otak, padahal ia juga baru kehilangan
ayahnya, ibunya, dan rumahnya. Kami
semua ingin tahu reaksi yang ditunjukkan
oleh Mary.
Ia masuk ke dalam mesin MRI tanpa
protes sedikit pun, dan kami mulai
dengan pemeriksaan itu. Pada waktu
itu, tiap imaging sequence mengharuskan
pasien betul-betul diam tak bergerak
selama kira-kira lima menit. Ini tidak
mudah bagi siapa pun - terlebih bagi
seorang anak lima tahun yang sudah
menderita begitu banyak. Kami sedang
melakukan imaging atau pencitraan
atas kepalanya, sehingga gerakan sedikit
pun pada wajahnya, termasuk bicara,
akan menyebabkan citra yang dihasilkan
terdistorsi.
Ketika squence pertama
baru berjalan dua menit, kami melihat
pada monitor bahwa mulut Mary bergerak.
Kami mendengar suara yang teredam
melalui interkom. Kami segera menghentikan
pemeriksaan dan dengan lembut mengingatkan
Mary agar tidak bicara. Ia tersenyum
dan berjanji untuk tidak bicara.
Kami menyetel ulang mesin itu dan
memulai pemeriksaan dari awal lagi.
Sekali lagi kami melihat gerakan pada
wajahnya dan mendengar suara lirihnya.
Yang diucapkannya tidak jelas. Semua
menjadi agak kesal mengingat proses
MRI yang harus dijalankan pada Mary
masih panjang sekali.
Kami ke belakang dan
mengeluarkan Mary dari mesin. Sekali
lagi, ia memandangi kami dengan senyum
polosnya dan tidak tampak gelisah
atau marah sedikit pun. Teknisi kami,
dengan suara agak kasar, menegur,
"Mary, kau bicara lagi, akibatnya
gambarmu menjadi kabur."
Mary tetap tersenyum waktu menjawab,
"Aku tidak bicara. Aku menyanyi.
Kata kalian aku tidak boleh bicara."
Kami saling memandang. Kami yang salah,
bukan anak itu.
"Apa yang kau nyanyikan?"
tanya salah seorang dari kami.
"Yesus Sayang Aku," katanya
dengan mantap. "Aku selalu menyanyikan
lagu 'Yesus Sayang Aku' kalau aku
sedang senang."
Semua yang hadir di ruangan itu tidak
bicara. Senang? Bagaimana mungkin
anak kecil ini merasa senang? Aku
dan teknisi yang telah menegurnya
cukup keras terpaksa keluar dahulu
dari ruangan itu untuk menenangkan
diri karena air mata kami tidak terbendung
lagi.
Sejak hari itu, setiap
kali kami merasa stres, sedih, atau
kecewa dengan sebagian jalan hidup
ini, aku segera mengingat Mary. Kesahajaan
dan kepolosannya merupakan sumber
ilham bagiku. Contoh yang diberikannya
membuatku melihat betapa kebahagiaan
adalah anugerah yang tak ada bandingannya
- namun siapa pun boleh menerimanya,
kalau mau.
keatas
|