giki.com





 

Kesaksian


Ia Membuat Segala Sesuatu Indah Pada Waktunya
dikirm oleh HP

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain.
Saya yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi saya memberitahu kepadanya, bahwa yang saya lihat dari bawah hanyalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu meyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, engkau akan ku panggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu
semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, saya mendengar suara ibu memanggil,"Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu."

Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang
indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata, "Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari
apa yang ibu lakukan."

Sering selama bertahun-tahun, saya melihat ke atas dan bertanya kepada
Bapa Sorgawiku," Bapa, apa yang Engkau lakukan? " Ia menjawab" Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang - benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"

Kemudian Bapa menjawab," Anakku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini, satu saat nanti. Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dalam hidupmu."


Hari Yang Hilang
Oleh: G. Joseph, diforward FB

Bapak Harold Hill adalah presiden direktur dari perusahaan , di Baltimore Maryland. Perusahaan beliau adalah bergerak di bidang pendidikan ke-antariksaan dan percobaan-percobaan yang berhubungan dengan semua masalah tata surya dan alam semesta. Salah satu penemuan mereka yang dapat saya katakan menakjubkan adalah ketika mereka melakukan percobaan di Green Belt, Maryland.

Percobaan mereka adalah mengecek kebenaran perhitungan manusia dalam sistem penanggalan yang dipakai sekarang ini, mengecek keabsahan dari posisi matahari, bulan, dan planet-planet di tata surya untuk jangka waktu 100 dan 1000 tahun ke belakang dari sekarang.

Sebenarnya inti utama dari percobaan mereka adalah agar mengetahui semua pergerakan alam semesta untuk masa yang akan datang, sehingga jika mereka akan mengorbitkan satelit, maka satelit tersebut akan diletakkan / diorbitkan pada posisi yang hampir tidak mungkin bertabrakkan dengan benda asing di alam semesta. Karena mereka berpikir bahwa sebuah satelit yang memakan biaya jutaan dollar amerika, alangkah sayangnya jika sewaktu-waktu ditabrak misalnya oleh meteor atau komet.

Mereka menjalankan komputer untuk menghitung mundur untuk beberapa abad, tetapi hasil yang didapat adalah komputer selalu berhenti berproses.
Mereka lakukan berkali-kali tetapi hasil yang didapat adalah sama,
komputer mereka mengalami masalah penghitungan.Perlu anda ketahui, jika komputer tidak dapat melakukan suatu perhitungan,
maka hasil yang didapat adalah aksi diamnya komputer, seperti tidak
melakukan apa-apa.

Mereka lalu memanggil ahli mekanik komputer, karena para ahli ini berpikir bahwa ini adalah kesalahan yang dibuat oleh komputer
mereka. Ketika para teknisi komputer memeriksa mesin komputer tersebut mereka tidak menemukan sedikit kesalahan pun pada mesin tersebut. Tetapi ketika para ilmuwan itu menunjukkan kesalahan yang dibuat oleh komputer, teknisi komputer juga bingung, "Apa masalahnya ya...".

Mereka terus mencari kesalahan yang dibuat oleh komputer mereka, akhirnya mereka menemukan sesuatu yang membuat komputer itu
tidak bekerja. Mereka menemukan adanya HARI YANG HILANG dalam jangka waktu tertentu. Mengapa bisa demikian? Mereka tidak dapat menemukan jawabannya. Akhirnya, salah seorang pekerja di perusahaan itu tetapi dari divisi yang berbeda dan seorang Kristen berkata kepada mereka, "Saya ingat ketika saya dulu sekolah minggu, guru sekolah minggu bercerita tentang matahari yang diam tidak bergerak satu hari penuh." Orang-orang di sekitarnya tidak percaya apa yang dikatakan oleh orang Kristen tadi, kata mereka, "Tolong buktikan dan tunjukkan kepada kami." Lalu orang tersebut membuka Alkitab dan menunjukkan pada mereka kitab Yosua. Alkitab menceritakan ketika pasukan
Yosua dikelilingi oleh musuh-musuhnya, ia meminta kepada Tuhan agar tidak terjadi malam. Dan Alkitab mengatakan bahwa matahari, bulan, bintang dan semua tata surya diam tidak bergerak selama satu hari penuh. Setelah pembuktian tersebut, para ilmuwan berkata, "Inilah hari yang hilang itu!"

Mereka kemudian melanjutkan penghitungan hari yang hilang itu agar komputer tidak lagi berhenti berproses. Tetapi setelah program selesai diperbaiki, komputer tersebut tetap mengalami masalah, dan mereka menemukan kembali perhitungan yang baru bahwa hari yang hilang itu adalah 23 jam lebih 20 menit! Tidak 24 Jam / satu hari penuh seperti yang dikatakan dalam Alkitab. Berselang beberapa jam, pegawai Kristen tadi berkata kembali, "Saya ingat kejadian yang lain dalam Alkitab di mana matahari BERGERAK MUNDUR." Ia membuka kitab II Raja-Raja di mana Yesaya meminta kepada Tuhan agar matahari bergerak mundur sebanyak 10 derajat! Mereka terperanjat kaget, karena para ilmuwan tersebut tahu persis bahwa 10 derajat dari pergerakan matahari adalah tepat 40 menit! 24 jam permintaan Yosua kepada Tuhan dan 40 menit permintaan Yesaya kepada Tuhan adalah 24 jam dikurangi 40 menit = 23 jam lebih 20 menit.

Hampir satu hari penuh alam semesta kehilangan harinya. Tepat seperti apa yang para ilmuwan hitung dengan komputernya.

KEBESARAN TUHAN DIBUKTIKAN KEMBALI DENGAN ILMU
PENGETAHUAN, ALKITAB TIDAK
PERNAH SALAH!!! PUJI TUHAN.
Please pass it on ! All glory & honour for our
Lord Jesus Christ

"Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun" (Mzm 133:1)
--------------------------

From: piter sitepu <pitersitepu@yahoo.com
Reply-To: gerejagiki@yahoogroups.com
To: gerejagiki@yahoogroups.com
Subject: Re: [gerejagiki] FW: HARI YANG HILANG
Date: Sat, 20 Apr 2002 05:27:16 -0700 (PDT)

Hallo semua,
menarik sekali membaca artikel yang diforward fredrik
barus tentang 'hari yang hilang'.

Saya penasaran dan mencari beberapa nara sumber yang
lain, ternyata perusahaan Curtis Engine yang dimaksud
dalam cerita tersebut adalah perusahaan besar yang
sampai sekarang masih ada , dan termasuk salah satu
perusahaan yang bekerja sama dengan NASA.

Dan cerita tersebut dikutip juga oleh beberapa media
antara lain: http://www.truthorfiction.com/rumors/joshuaday.htm

Hal ini semakin menambah keyakinan saya tentang
kebenaran setiap inci cerita yang ada di alkitab.
Thanks mr. Barus, ada yang mau kasih comment.

--------------------

From: "Remedi Peranginangin" <rperangin@hotmail.com
Reply-To: gerejagiki@yahoogroups.com
To: gerejagiki@yahoogroups.com
Subject: Re: [gerejagiki] FW: HARI YANG HILANG
Date: Sat, 20 Apr 2002 16:04:40 +0000


Syalom,

Hari yang hilang "kira-kira" sehari penuh
dapat dibaca dalam Yosua 10: 12-14.

Matahari mundur 10 tapak dapat dibaca dalam
II Raja-Raja 20:8-11.

Wah, luar biasa kisahnya.

Tuhan memberkati!

Bp. Nael

keatas


Berkat Dari Saudara Sepupu
oleh PS

Rekan sekerja saya, wanita kulit putih bercerita kepada saya tentang agama yang baru dipelajari dan diyakininnya yaitu agama sepupu kita. Saya sangat heran karena latar belakangnya adalah katholik orthodox dan dia dididik oleh orangtuanya dengan sangat ketat pada ajaran ortodox tersebut.

Dia bercerita bahwa dia menganut agama yang baru tersebut setelah membaca al'quran di perpustakaan umum dan tidak ada yang mengajarinya. Sampai sekarang dia melakukan sembahyang 5 kali sehari di toilet (tentu saja tidak ada musholla di tempat kerja kami).

Wow, saya penasaran, mengapa dia bisa berpindah haluan, dan dia jawab karena dia bosan dengan orang 'kristen' atapun 'katholik' yang berdoa cuma minta melulu kalau bisa minta BMW. Bandingkan dengan agama Islam yang berdoa hanya mengagungkan Allah, Allahuakbar; tidak memikirkan diri sendiri, tegasnya.

Wah, saya agak senewen juga, tapi ini negara demokrasi bung, semua orang bebas mengemukan pendapat, jadi saya diamkan saja.

Pulangnya, pikiran saya agak terganggu dengan diskusi kami. Bukankah saya juga setiap pagi minta-minta terus sama Tuhan dalam doa saya. Walaupun bukan minta BMW tapi minta diberikan hari yang baiklah, minta supaya kerja dengan baiklah, minta kesehatan yang fit lah, tidak ada celakalah; pokoknya kata kuncinya 'minta'. Saya sering lupa dalam doa saya untuk hanya memuji Tuhan 'Hossana' 'Halleluya' tanpa ada sampingannya 'minta'. Wah saya perlu belajar juga berdoa ala 'agama sepupu' yang hanya mengagungkan ALLah.

Demikianlah berkat yang saya terima dari rekan 'saudara sepupu'. Tapi saya agak bingung, ketika dia bilang dia makan daging babi (pork). Ah, mungkin dia pikir yang haram adalah babi (pig) tapi pork nggak kali.

Bye-bye

keatas


Tiga Pendekar

Apakah mereka yang terbelakang dan bodoh merupakan rahmat Tuhan atau sebuah kecelakaan sejarah? Barangkali, cerita saya ini bisa menjadi salah satu kacamata untuk melihat, bahwa ternyata apapun yang diciptakan Tuhan memang menjadi rahmat bagi dunia.

Saya lahir tahun 78 dan dua tahun kemudian ibu saya meninggal karena suatu penyakit. Apalah yang dimiliki seorang anak umur 2 tahun ketika ditinggal ibunya kecuali tangis ketidaktahuan. Ketidaktahuan karena belum bisa berpikir tetapi telah diberi Tuhan perasaan sepi dan kehilangan.

Di sebelah utara rumah saya, tinggal seorang pemuda idiot. Dia kira-kira berumur 12 tahun ketika ibu saya meninggal. Selain itu, di sebelahnya tinggal pula seorang pemuda lain berumur 20-an tahun yang belum pernah bersekolah, tidak bisa membaca dan bekerja sebagai kusir andong(kereta/bendi). Sementara di sebelah barat rumah saya, tinggal pemuda yang juga berumur 20-an tahun, terbelakang, bodoh dan harus keluar dari kelas I SD karena tak bisa mengikuti pelajaran sedikitpun.

Sebagai anak berumur 2 tahun, tentu saja saya belum begitu mengenal mereka. Tetapi seiring waktu, saya mulai tahu bahwa merekalah sahabat terbaik dalam hidup saya. Akal saya yang semakin terasah ketika berumur 5 tahun dan ingatan yang semakin kuat mematri kenangan saya dengan 3 orang hebat dalam hidup saya tersebut. Merekalah yang saya sebut sebagai 3 pendekar dalam hidup saya. Tiga orang yang sama-sama terbelakang, tidak bisa membaca dan sering dianggap "agak kurang" (bahasa halus untuk sedikit gila) oleh tetangga-tetangga, tenyata merupakan penyelamat hidup saya.

Pemuda pertama, anak belasan tahun yang saya tahu dipanggil Adek, idiot dan selalu mengeluarkan air liur dari mulutnya. Karena tak pernah memiliki teman bermain, saya lah yang selalu dipandangnya dari jendela rumah. Ketika semua orang mengusir dan anak-anak lain takut untuk mendekat, dia mencoba mengenal saya. Dialah yang kemudian merawat saya, karena ketiadaan ibu dan ayah yang terlalu jarang di rumah. Anak idiot itulah yang mengajari saya bermain,membuatkan wayang suket, mencari kodok di sawah, berendam di kali atau menonton karnaval 17 Agustus yang tiap tahun diadakan di kota kecamatan.

Pemuda dua puluhan tahun yang menjadi kusir andong tadi bernama Gandul. Keterbelakangannya justru menjadi sumber kebaikan hati. Setiap hari, begitu pulang dari bekerja, dia selalu menyisihkan uang Rp 50-100 di bawah jok andongnya. Uang itu khusus disediakan untuk saya, anak SD yang tak pernah lagi menerima uang saku dari ayahnya. Selama bertahun-tahun, Gandul melakukan itu karena tahu bahwa saya tak pernah bisa jajan jika dia lupa menyisihkan. Dia juga yang mengajak saya jalan-jalan, menjadi kernet andong atau bersuka dengan kudanya.

Pemuda ketiga bernama Darsio, karena tak juga bisa melakukan apa yang dilakukan kawan-kawannya, dia dikeluarkan dari sekolah. Mulai itulah dia mendekati saya, mengajak saya bermain di kebunnya yang luas. Mencarikan buah apapun yang saya inginkan. Jika saya lagi kepingin pisang, dia akan mencarinya. Begitu pula ketika saya minta kelapa muda di satu siang yang panas, dia akan mengajak saya ke kebun dan memetikkan beberapa. Darsio mengajari saya berenang, kadang berpetualang seharian ke tempat-tempat yang jauh, berjalan kaki dan melatih keberanian saya. Karena sebelumnya saya memang terlalu penakut dan mudah menangis. Agar tubuh saya kuat, dia juga memberi segelas susu kedelai dari pabrik tahu milik orang tuanya hampir setiap hari.

Ketiga orang itu, 3 pendekar yang mengisi hidup masa kecil saya. Menemani dengan tulus sehingga kini saya bisa berpikir bahwa Tuhan memang mengambil ibu saya, tetapi Dia mengirimkan 3 orang hebat dalam hidup saya. Ketiganya terbelakang, tidak sekolah, tak bisa membaca, bahkan dua diantaranya sampai kini tak punya istri. Tetapi merekalah yang mengajari saya banyak hal, menemani tahun-tahun sepi, membantu saya siap untuk mandiri.

Kini saya 24 tahun dan akan segera menyelesaikan kuliah. Karena pengalaman hidup itulah saya bisa bertahan hingga sekarang, merantau, mandiri, dan memiliki pandangan positif terhadap makluk ciptaan Tuhan seperti apapun adanya. Untunglah saya dibesarkan oleh 3 orang idiot dan bukannya 3 orang profesor, 3 orang kaya, atau 3 bisnisman. Sehingga saya bisa memaknai hubungan antar manusia, bukan karena kapasitas intelektual, materi atau kesuksesan. Bagi saya, ketulusan untuk memberi dan sikap menjadi manusia seutuhnya itu lebih penting. Berkah dari 3 pendekar hebat, dan karena itulah saya selalu beranggapan, seperti apapun kondisinya, hidup kita diciptakan Tuhan sangat indah. Kalau mata kita memandangnya dengan indah pula. Sumber: Nurhadi (29 Agustus 2002)

keatas


Senyum yang Lugu
(James C. Brown, M.D., A 5th Portain Of Chicken Soup For The Soul)

Ketika kami mendorong Mary, yang usianya lima tahun, ke dalam ruang MRI (magnetic resonance imaging), aku mencoba membayangkan perasaannya. Ia telah menderita stroke yang menyebabkan tubuhnya lumpuh sebelah, dirawat di rumah sakit untuk pengobatan tumor otak, padahal ia juga baru kehilangan ayahnya, ibunya, dan rumahnya. Kami semua ingin tahu reaksi yang ditunjukkan oleh Mary.
Ia masuk ke dalam mesin MRI tanpa protes sedikit pun, dan kami mulai dengan pemeriksaan itu. Pada waktu itu, tiap imaging sequence mengharuskan pasien betul-betul diam tak bergerak selama kira-kira lima menit. Ini tidak mudah bagi siapa pun - terlebih bagi seorang anak lima tahun yang sudah menderita begitu banyak. Kami sedang melakukan imaging atau pencitraan atas kepalanya, sehingga gerakan sedikit pun pada wajahnya, termasuk bicara, akan menyebabkan citra yang dihasilkan terdistorsi.

Ketika squence pertama baru berjalan dua menit, kami melihat pada monitor bahwa mulut Mary bergerak. Kami mendengar suara yang teredam melalui interkom. Kami segera menghentikan pemeriksaan dan dengan lembut mengingatkan Mary agar tidak bicara. Ia tersenyum dan berjanji untuk tidak bicara.
Kami menyetel ulang mesin itu dan memulai pemeriksaan dari awal lagi. Sekali lagi kami melihat gerakan pada wajahnya dan mendengar suara lirihnya. Yang diucapkannya tidak jelas. Semua menjadi agak kesal mengingat proses MRI yang harus dijalankan pada Mary masih panjang sekali.

Kami ke belakang dan mengeluarkan Mary dari mesin. Sekali lagi, ia memandangi kami dengan senyum polosnya dan tidak tampak gelisah atau marah sedikit pun. Teknisi kami, dengan suara agak kasar, menegur, "Mary, kau bicara lagi, akibatnya gambarmu menjadi kabur."
Mary tetap tersenyum waktu menjawab, "Aku tidak bicara. Aku menyanyi. Kata kalian aku tidak boleh bicara." Kami saling memandang. Kami yang salah, bukan anak itu.
"Apa yang kau nyanyikan?" tanya salah seorang dari kami.
"Yesus Sayang Aku," katanya dengan mantap. "Aku selalu menyanyikan lagu 'Yesus Sayang Aku' kalau aku sedang senang."
Semua yang hadir di ruangan itu tidak bicara. Senang? Bagaimana mungkin anak kecil ini merasa senang? Aku dan teknisi yang telah menegurnya cukup keras terpaksa keluar dahulu dari ruangan itu untuk menenangkan diri karena air mata kami tidak terbendung lagi.

Sejak hari itu, setiap kali kami merasa stres, sedih, atau kecewa dengan sebagian jalan hidup ini, aku segera mengingat Mary. Kesahajaan dan kepolosannya merupakan sumber ilham bagiku. Contoh yang diberikannya membuatku melihat betapa kebahagiaan adalah anugerah yang tak ada bandingannya - namun siapa pun boleh menerimanya, kalau mau.

keatas

 

 

| Halaman Depan | Informasi GIKI | Sharing | Warta Jemaat  | Suara Sinode | Renungan | Album Foto | Kesaksian | Links | Buku Tamu | Lain-lain |
Copyright © 2002 -toindo.net.